WELCOME TO MY BLOG

Kamis, 09 Mei 2013

Waktu Aku Sama Mika




Indi adalah seorang gadis penderita Skoliosis. Suatu istilah untuk pertumbuhan tulang belakang yang tidak sempurna. Kelainan ini membuat Indie tumbuh menjadi gadis pasif, tidak percaya diri, dan merasa tidak mempunyai kelebihan apa-apa.
Suatu ketika, dengan terpaksa Indi mengikuti orang tuanya. Mereka berkunjung ke rumah Paman Indi di Bandung. Di sana dia menjumpai seorang pemuda aneh. Kurus, badan bertato, berlesung pipit satu, dan selalu tersenyum padanya.
Pembawaan pemuda itu yang riang membuat Indi semakin terbuka terhadapnya. Dan tibalah saat perkenalan itu. Pria itu menyebut namanya: Mika. Tak ada pertanyaan lanjutan. Tak ada basa-basi. Hanya satu hal yang menarik perhatian Indi saat itu. Sandal jepit Mika warnanya beda. Satu hijau satu lagi berwarna kuning.
Mika benar-benar bagai malaikat bagi Indi. Dengan Mika, Indi tak perlu berpura-pura. Tak perlu malu. Saking terpesonanya Indi dengan Mika, dia langsung bilang Ya ketika Mika meminta Indi menjadi pacarnya. Di hari pertama mereka pacaran itu, Mika bilang kalau dia menderita HIV. Indi tak berkomentar apa-apa. Juga tidak menanyakan lebih detil apa itu HIV. Mika sendiri juga tidak pernah menanyakan kenapa dia memakai penyangga punggung. Kenapa dia harus punya hak bertanya.
Mika mengubah Indi perlahan-lahan. Dari gadis pemalu menjadi gadis yang berani. Bahkan kakak kelasnya yang melarang Indie untuk menggunakan toliet karena dia takut tertular HIV ia lawan. Bahkan omongan Gerry yang menjelek-jelekan Mika ia bantah.
Malam itu. Indi sedang menemani Mika menonton Home Alone 2. Indi bahagia melihat Mika bernyanyi kecil sambil sesekali tertawa melihat tokoh di film ketika membuat kekacauan. Tetapi semakin lama suara Mika semakin hilang. Indie merasa aneh. Dia lantas menatap Mika. Barulah ia sadar, Mika sudah pergi untuk selama-lamanya, tepat tiga puluh menit sebelum film berakhir. Indi melanjutkan melihat film dengan mata kosong sampai film berakhir. Mama Mika sendiri yang memergoki kematian Mika, sementara Indi hanya diam tanpa meneteskan air mata di pojok ruangan.
Setiap hari Indi selalu mengenang Mika. Mika bagi Indi adalah seorang malaikatnya, gurunya dalam pelajaran ‘tanpa syarat’, pahlawannya, petarung AIDS sejatinya, dan inspirasi terbesarnya dalam menulis. Menurut Indi, Tuhan memanggil Mika kembali ke surga karena telah menyelesaikan tugasnya menjadi malaikat untuk Indi.